Sunday, November 24, 2013

Efek Rumah Kaca (Green House Effect) Menjaga Kelangsungan Hidup Manusia

Efek rumah kaca (green House Effect) selama ini menyandang predikat negatif di mata masyarakat. Sebenarnya adanya efek rumah kaca di bumi, sangat membantu kelangsungan hidup manusia. Untuk mengetahui apa itu efek rumah kaca sebaiknya kita mengetahui dulu asal-usul istilah "Efek rumah kaca".

Green House atau yang sering diiterjemahkan sebagai "Rumah Kaca" sesungguhnya adalah benar-benar rumah dari kaca (glass/plastic) yang juga terlihat berwarna hijau. Rumah kaca di-desain manusia yang ingin berkebun di daerah yang mengalami musim dingin, cuaca yang dingin disiasati dengan membangun "rumah kaca". Tumbuhan pada rumah kaca ini akan menerima sinar matahari pada siang hari, sinar matahari menembus melalui kaca namun energi panas tetap terjaga di dalam ruangan yang didesain sedemikian rupa karena energi tersebut kemudian terperangkap di dalam rumah kaca dengan bantuan gas-gas rumah kaca (greenhouse gasses), suhu didalam rumah kaca akan lebih hangat dibanding suhu diluarnya. Hal ini yang dianalogikan sebagai Green House Effect atau Efek Rumah Kaca. Rumah ini terlihat berwarna hijau dari jauh akibat tumbuhan hijau didalamnya.


Green House (Foto : http://climatekids.nasa.gov)

Gas-gas rumah kaca adalah gas yang dapat menyerap sebagian energi radiasi dari matahari dan kemudian melepas/meng-emisikannya kembali. Beberapa gas rumah kaca adalah : uap air (H2O), karbondioksida (CO2), Metana dan Ozon (O3). Gas-gas ini sudah ada dibumi saat bumi terbentuk dan berkontribusi besar bagi kehidupan manusia. Efek Rumah Kaca juga adalah efek alami yang sudah terjadi saat bumi mulai terbentuk, efek rumah kaca membantu agar suhu rata-rata permukaan bumi tetap hangat.

Secara sederhana proses terjadinya efek rumah kaca adalah sebagai berikut :
Energi matahari (yang terdiri dari banyak penjang gelombang) sebelum mencapai bumi sudah mengalami penyaringan oleh lapisan-lapisan yang menyelimuti bumi (eksosfer, termosfer, stratosfer..), sehingga energi-energi berbahaya (gama ray, sinar-X) sudah tersaring dan yang mencapai bumi energi-nya tidak lebih tinggi dari energi UV-C (UV-A dan UV-B kini mulai mencapai bumi karena lapisan Ozon yang "berlubang", pembahasan mengenai ozone akan dibahas kemudian), hal tersebut terjadi secara natural sehingga makhluk hidup dibumi dapat hidup.

Energi yang mencapai bumi sebagian diserap, sebagian lagi dipantulkan kembali ke atmosfer, energi yang diserap kemudian kembali dilepas/di-emisikan ke permukaan dalam bentuk termal, radiasi permukaan dan infra-red. Energi infrared ini kemudian diserap dan dilepaskan secara berkesinambungan (continue) oleh gas-gas rumah kaca yang ada di permukaan bumi (Uap Air, CO2, dll), sehingga membuat permukaan bumi tetap terjaga hangat.

Efek Rumah kaca dan hubungannya dengan perubahan iklim (climate change) berkaitan dengan tinggi-nya aktivitas manusia dan menyebabkan emisi CO2 yang sangat besar di permukaan bumi, beberapa penyebab emisi CO2 yang tinggi adalah pembakaran minyak bumi (bensin, solar, dll), penebangan liar/deforestation dan produksi semen. Tingginya konsentrasi gas CO2 inilah yang menyebabkan suhu di permukaan bumi semakin panas.

Sebelum hujan kadang kita merasa cuaca sangat panas, hal ini juga terkait dengan kelembaban udara yang tinggi (konsentrasi uap air yang tinggi), uap air juga adalah salah satu gas rumah kaca yang dapat menyerap energi infrared dan kemudian melepasnya (emisi) kembali.

Indonesia sebagai negara berkembang tentu masih banyak meng-emisikan CO2 untuk pembangunan-nya, dengan iklim yang sudah "gawat" tentu pembangunan yang ramah lingkungan/rendah emisi sangat diperlukan, hal tersebut membutuhkan bantuan negara maju (yang merupakan kontributor terbesar emisi CO2) untuk membagikan pengetahuan teknologi ramah lingkungan. Contoh energi ramah lingkungan adalah solar energi, energi arus laut, kincir angin, dsb.


No comments:

Post a Comment